Kamis, 20 Februari 2014

SMKN 2 PACITAN



Setahun Siswa SMKN 2 Belajar Lesehan

KOTA – Kondisi ratusan siswa SMKN 2 Pacitan sungguh memprihatinkan. Akibat renovasi sekolah yang mengalami keterlambatan anggaran, mereka terpaksa harus belajar di sebuah musala dengan cara lesehan. Pantauan Jawa Pos Radar Pacitan, kemarin (9/1), ratusan siswa kelas XII dan X itu terpaksa memanfaatkan musala sekolah untuk kegiatan belajar mengajar. Parahnya, musala yang digunakan juga dalam kondisi setelah jadi. Menurut Humas SMKN 2 Pacitan, Setyatmo Aji, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti itu (lesehan di musala) sudah berlangsung sejak setahun lalu. Hal itu dikarenakan SMKN 2 mengalami kekurangan ruang kelas. Jumlahnya tidak sebanding dengan rombongan belajar (rombel) yang ada. ‘’Di sini total rombelnya 98, sedangkan kelasnya hanya berjumlah 27 ruangan saja. Sehingga, tidak bisa menampung seluruh siswa di dalam kelas,’’ ujar Aji, kemarin. Selain itu, proses renovasi sekolah memang tidak berlangsung dengan mulus. Dia menyatakan, ada keterlambatan cairnya anggaran sehingga secara otomatis menghambat proses renovasi sekolah. Dia menyebutkan, pancairan anggaran tahap pertama sudah terjadi pada Oktober 2013 dan langsung digunakan untuk proses renovasi. Untuk pencairan anggaran tahap kedua dan ketiga, seharusnya sudah turun pada November dan Desember 2013. Namun, anggaran tahap kedua ternyata turun pada 30 November 2013, sehingga baru bisa dicairkan 3 Desember 2013 lalu. ‘’Dengan begitu, mau bagaimana lagi. Kegiatan pemantapan KBM di musala dengan sangat terpaksa dilakukan karena kami tidak punya ruangan untuk dipakai. Selain itu, ruangan yang sedianya tersedia saat ini, tengah direnovasi dan belum selesai,’’ katanya. Pihaknya mengaku sudah mengajukan permohonan ke Jakarta (Kemendikbud) untuk pemanfaatan gedung Akademi Komunitas yang tepat berada di sebelah SMKN 2 Pacitan. Namun, selalu kandas di tengah jalan. Pasalnya, Kemendikbud mengatakan peruntukan bangunan senilai Rp 50 miliar itu hanya untuk pendidikan strata diploma. ‘’Kepala sekolah (Sukarni, Red) sudah ke Jakarta sampai tiga kali. Tapi, masih belum membuahkan hasil,’’ terangnya. Akibat kondisi seperti itu, kata Aji, anak didiknya tidak bisa berkonsentrasi saat proses KBM. Terutama bagi mereka yang sudah kelas XII. Sebab, menurutnya dalam masa seperti saat ini, mereka memasuki masa pemantapan mental dan materi menghadapi unas yang hanya tinggal beberap bulan lagi. ‘’Apabila tidak segera ada tindak lanjut pemkab atau Dinas Pendidikan dalam hal ini, dikhawatirkan akan menggangu proses persiapan ujian,’’ terangnya. Sementara itu, kepala SMKN 2 Pacitan, Sukarni meminta agar pemkanb maupun instansi terkait untuk dapat sedikit memperhatikan lembaga pendidikan yang dia pimpin. ‘’Kasihan melihat generasi-generasi penerus harus belajar di lantai. Kami minta pemerintah bisa mencurahkan perhatian kepada siswa sekolah kami,’’ tandasnya. Selain masih akan berusaha meminta bantuan ke Kemendikbud, pihaknya juga akan mengusahakan perluasan sekolah. Rencananya dirinya akan menghadap ke bupati Pacitan Indartato untuk meminta tanah bengkok yang berada di samping sekolah untuk dijadikan pembangunan kelas baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar